• Home
  • Sumut
  • Penataan Pedagang Jl Kartini Medan Disinyalir Bermuatan Politis
Jumat, 20 Oktober 2017 | 00:05:15

Penataan Pedagang Jl Kartini Medan Disinyalir Bermuatan Politis

Nando
PATROLINEWS.COM, Medan - Penataan pedagang kaki 5 di Jalan RA Kartini, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Kota tepatnya di samping kantor Gubernur Sumatera disinyalir bermuatan politis. Pasalnya, modus pembenahan warung pedagang diharuskan memakai tenda seragam berwarna kuning.

Wakil Ketua Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Hendra P Hutagalung kepada wartawan Kamis (19/8/2017) mengatakan merasa aneh membaca surat peringatan II yang dilayangkan Lurah Madras Hulu, La Ode Muh Iqbal kepada para pedagang.

Keanehan itu terlihat pada poin ketiga yang menyebutkan,"Menyeragamkan warna tenda (memakai tenda berwarna kuning)". Penyeragaman tenda ditengarai bermuatan politis karena meminta tenda warung harus berwarna kuning.

"Sekarangkan suasana Pilkada, kenapa harus warna kuning. Apakah ada tujuan untuk mendukung salah satu pencalonan cagub yang didukung oleh partai berwana kuning itu juga," ungkap Hendra seraya bertanya.

Hendra menegaskan muatan politis Pemko Medan juga tampak pada usaha Kembar ponsel di Jalan SM Raja Medan  yang telah memakan badan jalan.

"Kenapa tidak dibongkar apakah karena warna kuning jadi tidak dibongkar padahal usaha Kembar Polsel itu juga memakan badan jalan," ujar Hendra anggota Bibit Samad Rianto mantan wakil Ketua KPK itu.

Lagi pula, katanya,  alasan-alasan yang dibuat Pemko Medan melalui lurah yang notabene  bawahannya itu tidak merupakan solusi dan hanya memberatkan pedagang.

"Walikota Medan Dzulmi Eldin tidak ada kapoknya meresahkan masyarakat. Mulai masalah ketidakberesan urusan jalan sejuta lobang sampai penggusuran pedagang menjadi mainan walikota kita," katanya.

Seharusnya Eldin, mendukung pertumbuhan pedagang kecil jangan malah menambah pengangguran karena itu berdampak bertambahnya angka kejahatan karena ini masalah kelangsungan hidup.

"Kalau Walikota Medan serius ingin memperindah kota Medan kembalikan fungsi lapangan Merdeka dulu," tegasnya.

Sementara salah seorang pedagang Warung Kopi, Ade mengatakan bahwa mereka tidak anti dengan program pembenahan yang dilakukan Lurah. Namun dia berharap agar pembenahan itu tidak malah memberatkan mereka.

"Kami menyetujui pembenahan, tetapi jangan sampai dilakukan bongkar pasang pada tenda-tenda pedagang, soalnya, itu membuat barang-barang menjadi cepat rusak dan menambah biaya operasional pedagang. Kami juga perlu mengurus anak dan keluarga pada pagi hari dan sore hari. Sistem bongkar pasang tenda akan membuat kami keluar rumah pada subuh hari dan sampai rumah pada malam hari," bebernya lagi.

Senada, Dodi, pedagang warung Nasi mengatakan bahwa sistem bongkar pasang akan menimbulkan masalah baru karena lokasi penyimpanan barang tidak ada.

"Berarti kami harus bawa pulang tenda itu kerumah, sedangkan kami tidak memiliki becak barang. Ini akan sangat merepotkan, dan berarti itu secara halus untuk menggusur dan mematikan usaha kami," ujar Dodi kesal. (Nando)

BERITA LAINNYA
Selasa, 21 November 2017 | 23:16:46
Rapat Fokopimda Sumut, Wagubsu Ajak Perangi Narkoba
Selasa, 21 November 2017 | 22:00:31
Banjir di Kabupaten Asahan Tidak Rusak Areal Persawahan
BERIKAN KOMENTAR
Top