Senin, 2 Oktober 2017 | 23:31:12

WON, Cagub Sultra Asal Desa Liya Togo

Sahwan
Lawa merupakan pintu masuk kawasan benteng Liya yang terdiri dari 3 lapis Lawa sebelum memasuki kawasan benteng. Wa Ode Nurhayati (foto inset)
PATROLINEWS.COM, Sultra - Matahari mulai membenam saat Wa Ode Nurhayati yang akrab disapa dengan panggilan WON itu sampai di bibir bukit Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, (Sultra), Senin (2/10/2017). 

Awan cumulus dan angin laut menghembus tubuhnya yang tak akan pernah bisa menyembunyikan keharuan tiap kali sampai ketempat ini. Tempat yang mengajarinya arti penderitaan, kejujuran, integritas, dan kesetiaan perempuan Wakatobi. 

Bagaimanapun bebatuan di bukit tandus inilah yang meninggalkan napak tilas ditiap lutut anak-anak yang tinggal didusun ini. Ini bukan kali pertama WON pulang kembali ketempat ini. Sejak setahun terakhir, mulai dari sebagai pengusaha sampai sebagai politisi baru.

Tak henti WON takjub haru, teringat kerasnya masa kecil, bahkan boleh jadi, alasan almarhum ke dua orang tuanya hijrah ke Papua, adalah karena kerasnya hidup ditanah tanpa aspal masa lampau ini. 

Sekarang hampir di semua jalan lama, bahkan jalan baru bahkan masih bisa kuhirup bau hangat aspalnya. Dimasa lalu, jangankan mobil, sepeda pun sulit menapaki jalan-jalan di kampung ini, katanya.

Sengaja WON turun dari mobil yang menjemputnya yang dikemudikan oleh saudara sekaligus sahabat masa kecil yang dipanggil dengan sebutan Ruslan. WON minta mereka meninggalkannya dari kampung yang bernama Sempo, disimpang kiri menuju Liya Togo.

Sedang kanan laut dan pulau di tengahnya, menggoda WON. Diteluk ini berderet perahu-perahu nelayan, dilautnya terhampar kebun agar-agar, milik masyarakat sekitar yang jadi mata pencaharian. 

Senja ini begitu tenang, setenang lukisan pulau Simpora, yang seakan enggan melepas pergi kapal-kapal nelayan,ombak tak pernah cemburu pada mereka, seperti juga air laut yang begitu bening hingga tampak anekarupa pemandangan dibawah lautnya.

"Liya Togo tak akan pernah selesai ku catat dalam hatiku, sebab ia adalah perawan yang selalu menutup cadarnya tiap kali lelaki menghampirinya, tak henti-hentinya ia membuat jatuh cinta, lahir disini aku seperti hawa yang diciptakan disurga dalam makna, atau mungkin Neverland si Peter Pan dalam imajinasi James Barrie," ungkap Wa Ode Nurhayati, calon gubernur Sultra ini. 

Bagaimana tidak, fakta yang keras dan berat tentangnya, senantiasa menjadikannya rindu dihati, meski nun jauh ditanah Papua. 

"Teringat kalimat-kalimat rindu kampung dari almarhum orang tua, yang ingin habiskan masa tuanya dikampung ini, tapi aku tau apa rindu itu, ia adalah persaudaraan dan solidaritas, yang dikenal dengan bahasa kampung Pokonta-konta dan Pohamba-hamba, boleh disingkat sakitmu sakitku jua, bahagiamu doaku jua," kata Cagub Sultra dari calon independen ini.

Memang pernah banyak perdebatan tentang tempat ini. Keindahan alam yang begitu kontras dengan kehidupan masyarakatnya yang tak lepas dari kungkungan kemiskinan.

Panorama ini bagaikan gambar-gambar mati ketika WON harus naik turun bukit demi bisa mencuci pakaian kotor, usianya 6 tahun ketika tangan kecilnya sudah melakukan aktifitas kiloan jalan kaki dengan ember cucian dikepala dan jirgen 5 liter air minum ditangan. Atau perjalanan 30 menit ke sekolah yang seakan hukuman bagi mereka yang hidup terpencil diujung pulau Wakatobi, pulau beralas bebatuan yang membuat sepatu cepat rusak, ungkapnya teringat masa kecilnya.

Dirinya masih terlena oleh suara azan yang begitu khas dikampung ini. Suaranya mendayu-dayu seperti ingatannya yang berputar kemasa lalu, tak terasa bulir bening hiasi kelopak matanya. 

"Ingin rasanya berlari, ketika samar-samar kudengar suara Ibu berteriak "Justhondo dimana kamu?, lekaslah pulang, hari sudah gelap" lamunanku usai ketika air mata ini tak terbendung lagi, wangi Ibu, dan semua tentangnya seakan hidup kembali," curhat WON .

WON memang selalu tak kuasa menahan godaan untuk ke Liya Togo, godaan itu selalu datang dari nenek tercinta wa Ode Yai, kakek tersayang kakek Idha qiqi dan Idha ganiru. 

"Lewat telepon Om Nurdin mereka selalu merangkai alasan, 'Pulanglah dulu banyak yang mau kita ceritakan'. Saya selalu memaksa diri untuk pulang bila semua orang tuaku dikampung itu memanggilku. Meskipun salah satu staf mengingatkan tentang agenda yang sudah dijadwalkan mengisi seminar di daerah Jambi tentang perempuan dan politik," tukasnya.

Sejak terpilih menjadi anggota DPR perempuan termuda dan perempuan pertama dari Sulawesi tenggara, dilantik diusia 29 tahun, serta merta WON menjadi sesuatu bagi keluarga besar khususnya di Wakatobi dan Sulawesia Tenggara pada umumnya. 

"Mereka menyambutku seperti menyambut anak sendiri. Begitu gemuruh, begitu haru. Awalnya aku merasa risih , tapi kesadaranku bahwa ini sesungguhnya bukan tentang diriku, tapi tentang mereka. Ini adalah tentang mereka, tentang harapan bertahun-tahun mereka pupuk dalam hidup tanpa listrik, tanpa air bersih, jalan tanpa aspal, dan gemuruh ombak yang bisa mencapai 7 meter tingginya," papar politikus muda ini. (*/Wan)

*******************************************

Riwayat WON, Cagubsu Sultra Keturunan Kesultanan Buton

PATROLINEWS.COM, Wakatobi - Namanya, Wa Ode Nurhayati, lahir dan besar dikampung atas bukit itu, Desa Liya Togo, kecamatan wangi-wangi kabupaten Wakatobi. Ayahnya almarhum H. La Ode Rane dan Ibunya Almarhumah Hj. Wa Ode Undu.

Wa Ode Nurhayati yang akrab disapa dengan panggilan WON merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. "Si sulung bernama La Ode Hisai. Kakak laki-laki kedua bernama La Ode Baw, sedangkan kakak perempuanku bernama Wa Ode Nuriani. Kami semua nya lahir dikampung itu. Menurut cerita kakek, ayah kami adalah turunan ke 9 dari Kesultanan Buton. Karenanya kami semua menggunakan kata ODE dalam nama kami sebagai gelar bangsawan dalam istilah umumnya," terangnya.

Namun janganlah membayangkan bahwa WON adalah golongan darah biru sebagai orang- orang khusus. Bahkan WON tahu status itu hanyalah karna "sebuah nama". Hal ini bukan hanya karena Kesultanan Buton tinggallah sejarah, tapi memang sejak dulu masyarakat Buton sudah memiliki budaya demokrasi, dimana kekuasaan tidak diturunkan oleh faktor geneologi, tetapi oleh hukum adat. 

Undang-undang dijunjung begitu tinggi, melampaui kekuasaan Raja. Karena pembagian kekuasaan itulah, masyarakat Buton tidak pernah dijajah. 

"Nanti aku akan coba ceritakan, kisah Almarhum Ayahku tentang bagaimana sejarah Buton dari Kerajaan Wolio hingga kesultanan Butuni, telah menganut sistem yang banyak digunakan masyarakat modern saat ini," katanya.

WON lahir malam Jumat, 6 November 1981, tepat bersama azan subuh dimana bulan purnama sedang terang-terangnya. "Ingatanku begitu nyata tentang hari kelahiranku ini, karena Ibu selalu mengulang-ulangnya. Terutama ketika aku sedang sedih. Ibu selalu bilang "saat kamu lahir,tangisan pertamamu didengar kakek, dia bilang andai kamu anak lai-laki dia meletakkan harapan besar pada masa depanmu, ia memimpikkan kelak kaulah yang jadi tempat pulang keluarga besar," pungkas WON, mengulangi perkataan almarhumah ibunya. 

WON tak yakin apakah Ibunya tengah mempercayai sebuah mitos atau sekedar menghiburnya saja. "Tapi yang pasti Ibu adalah orang ang tak pernah lelah mengajarkanku tentang harga diri sebagai perempuan Buton, kesetiaan,kejujuran dan keberanian adalah pesan-pesan yang jadi makananku," ujarnya.

Mungkin saat ini kata itu lebih terdengar sebagai ungkapan klise dari masyarakat feodal, namun Ibunya sudah membuktikannya dengan mampu menjaga keutuhan Rumah tangganya, meskipun dibangun dengan kepingan hati seorang perempuan. 

Lanjut WON, memiliki ayah seorang nahkoda kapal-kapal kayu ala Wakatobi, yang melintasi negeri bahkan sampai keluar negeri dimasa itu, untuk usaha rempah- rempah. Pekerjaan melaut adalah pilihan mayoritas laki-laki dikampung itu, sebab tak ada yang bisa diharapkan  dari batu-batu dibukit tandus ini. 

Bahkan untuk sekedar mandi dan mencuci, mereka harus menuju mata air yang letaknya jauh dilereng bukit. Meskipun selepas mandi dan mencapai puncak, badan kami sudah kembali basah oleh keringat.

Hingga usia 4 tahun, WON tak banyak mengingat tentang sosok Ayahnya, karena sampai pada usia itu Ayahnya tidak banyak bersamanya, karena profesinya sebagai pelaut. 

Tentu sebagai anak, WON kadang gusar ketika melihat teman-teman sebaya menyebut kata "Ama" dalam kehidupannya. Dan tentu saja WON pernah bertanya, meskipun yang didapat hanyalah repetisi yang tak bisa dihitung berapa ribu kali ibu, nenek, dan kakak mengatakan,"Ama sedang berlayar, nanti juga Ama pulang kalau kamu sudah besar," ungkapnya lirih.

Sejak itu, WON terobsesi untuk cepat tumbuh besar, agar aku dapat segera bertemu Ayah. "Ada sebuah resep yang Ibu berikan untuk mencapai itu, berani minum kunyit mentah," ungkap sembari tertawa. 

"Ada satu hal yang aku tak ingat tapi kelak Ibu selalu bercerita, bahwa tiap kali ada lelaki asing yang melintas aku kecil suka memanggilnya 'AMA'. Tapi ada yang masih aku ingat, aku biasa berdiri menunggu lama di ujung bukit, setiap melihat ada kapal yang hendak berlabuh," tukasnya.

Satu-satunya yang menghubungkan mereka dengan Ayahnya adalah ingatan dan doa Ibu disetiap sore diatas tangga rumah. Tak ada surat masa itu, apalagi telpon maupun sms. Kabar tentang Ayah biasanya kami dapat dari teman Ayah sesama pelaut, dimana Ayah juga biasanya menitipkan uang buat kami dan beberapa kalengan besar biskuit.

Masa kecil yang tomboy, membuatnya jarang menjadikan perempuan sebagai kawan dekat. Dalam ingatannya waktu masa kecil dirinya banyak bermain teman laki-laki.

"Mereka adalah Ara, Mahadi, Salome, Omy, Rudi, Fao, Musulia, dan lain-lain. Belajar memanjat pohon, bermain kelereng, memancing dilaut, adalah ajaran teman-teman itu yang saya ikuti dengan senang gembira," katanya. 

Menurut WON, sosok Ibunya adalah muslimah yang taat. Baginya agama bukan hanya perkara ritual ibadah. Tapi semua aktifitas  sejak mata terbuka hingga kembali terpejam, adalah ibadah kepada Tuhan. Semua sudah diatur oleh agama hingga hal-hal yang rinci, mulai dari bangun berucap syukur dan meminta perlindungan sepanjang hari, dan semua rutinitas lainnya yang semuanya harus di niatkan pengabdian pada Allah dan takut akan murka Allah. 

Semua itu benar-benar ibu tanamkan kepasa anak-anaknya. Solat dan ngaji bila terlalaikan Ibu akan menjadi seperti seorang Ayah yang marah dan garang. Sesekali beliau menguji sudah sampai dimana tingkat kemajuan kami mengaji. Guru mengajiku sendiri bernama Baira, tukasnya.

Kata-kata Ibu yang tidak pernah lepas dari ingatan adalah, dulukan ngaji bahkan dari sekolah. Bagi Ibu yang perempuan kampung masa itu, memahami bahwa agama adalah dasar, saat agama benar semua tentang dunia akan ikut benar.karenasemua dimulai dari oleh dan untuk Allah saja. 

"Terhadap kakak perempuan saya kak Nuri, yang selisih usianya 10 tahun diatas saya, Ibu disetiap gerak tubuhnya ada petuah, petuah tentang moral, tentang martabat, tentang kesetiaan, dan semua kebaikan yang kadang dimasa kini saya sadari betapa hebatnya Ibu saya, dengan semua keterbatasan mampu merangkai smua prinsip-prinsip dalam tutur-tutur yang penuh makna. 

WON menguraikan, Ibunya merupakan pribadi yang selalu sederhanakan, sebagai istri nahkoda kapal, tentu mereka berkecukupan bahkan lebih. Tapi Ibunya mengajari mereka untuk jadi seperti kebanyakan anak lain dikampung.

Satu ketika kiriman biskuit dari Ayah tiba, Ibu meminta dirinya membagikan semua teman-temannya dan makan bersama mereka. Namun setelah itu, meskipun biskuit untuk mereka masih ada, tapi Ibunya meminta mereka untuk makan dirumah. 

"Jangan memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa kamu bagi dengan kawanmu," Itu pesan mama, yang hingga kini saya jaga dan usaha saya tunaikan, ungkapnya.

Dari kesederhanaannya itulah Ibunya WON mungkin jadi pemilik emas terbanyak dikampung kami masa itu. "Kurang lebih Ibu sudah punya 2 kg saat itu. Menabung Emas adalah ajaran Ibu. Emas-emas Ibu seringkali dipinjam untuk acara-acara tradisi seperti pernikahan dan lainnya, karna masa itu dikampung kami aksesoris adalah emas asli. Tak pernah ada kehilangan dalam proses pinjam itu, sekaligus pesan kejujuran yang tertanam dalam kultur masyarakat Keraton Liya Togo," pungkas mantan anggota DPR RI ini menutup perbincangan. (*/Sahwan)


===============


Matahari mulai membenam saat aku sampai di bibir bukit Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, (Sultra). Awan cumulus dan angin laut menghembus tubuhku yang tak akan pernah bisa menyembunyikan keharuan tiap kali sampai ketempat ini. Tempat yang mengajariku arti penderitaan, kejujuran, integritas, dan kesetiaan perempuan Wakatobi. 

Bagaimanapun bebatuan di bukit tandus inilah yang meninggalkan napak tilas ditiap lutut anak-anak yang tinggal didusun ini. Ini bukan kali pertama saya pulang kembali ketempat ini, sejak setahun terakhir, mulai dari sebagai pengusaha sampai sebagai politisi baru.

Tak henti saya takjub haru, teringat kerasnya masa kecil, bahkan boleh jadi, alasan almarhum ke dua orang tua hijrah ke Papua, adalah karena kerasnya hidup ditanah tanpa aspal masa lampau ini. Sekarang hampir di semua jalan lama, bahkan jalan baru bahkan masih bisa kuhirup bau hangat aspalnya. Dimasa lalu, jangankan mobil, sepeda pun sulit menapaki jalan-jalan di kampung ini.

Sengaja aku turun dari mobil yang menjemputku yang dikemudikan oleh saudara sekaligus sahabat masa kecil yang kupanggil dengan sebutan Ruslan. Mereka ku minta meninggalkan ku dari kampung yang bernama Sempo, disimpang kiri menuju Liya Togo.

Sedang kanan laut dan pulau di tengahnya, menggoda mataku. Diteluk ini berderet perahu-perahu nelayan, dilautnya terhampar kebun agar-agar, milik masyarakat sekitar yang jadi mata pencaharian. 

Senja ini begitu tenang, setenang lukisan pulau Simpora, yang seakan enggan melepas pergi kapal-kapal nelayan,ombak tak pernah cemburu pada mereka, seperti juga air laut yang begitu bening hingga tampak anekarupa pemandangan dibawah lautnya.

Liya togo tak akan pernah selesai ku catat dalam hatiku, sebab ia adalah perawan yang selalu menutup cadarnya tiap kali lelaki menghampirinya, tak henti-hentinya ia membuat jatuh cinta, lahir disini aku seperti hawa yang diciptakan disurga dalam makna, atau mungkin Neverland si Peter Pan dalam imajinasi James Barrie. 

Bagaimana tidak, fakta yang keras dan berat tentangnya, senantiasa menjadikannya rindu dihati, meski nun jauh ditanah papua, bahkan teringat kalimat-kalimat rindu kampung dari almarhum orang tua, yang ingin habiskan masa tua nya dikampung ini, tapi aku tau apa rindu itu, ia adalah persaudaraan dan solidaritas, yang dikenal dengan bahasa kampung Pokonta-konta dan Pohamba-hamba, boleh disingkat sakitmu sakitku jua, bahagiamu doaku jua.

Memang pernah banyak perdebatan tentang tempat ini. Keindahan alam yang begitu kontras dengan kehidupan masyarakatnya yang tak lepas dari kungkungan kemiskinan.

Panorama ini bagaikan gambar-gambar mati ketika kami harus naik turun bukit demi bisa mencuci pakaian kotor, usia ku 6 tahun ketika tangan kecilku sudah melakuka aktifitas kiloan jalan kaki dengan ember cucian dikepala dan jirgen 5 liter air minum ditangan. Atau perjalanan 30 menit kesekolah yang seakan hukuman bagi kami yang hidup terpencil diujung pulau wakatobi, pulau beralas bebatuan yang membuat sepatu cepat rusak.

Aku masih terlena oleh suara azan yang begitu khas dikampung ini. Suaranya mendayu-dayu seperti ingatanku yang berputar kemasa lalu, tak terasa bulir bening hiasi kelopak mata. Ingin rasanya berlari, ketika samar-samar ketika samar-samar kudengar suara Ibu berteriak "Justhondo dimana kamu?, lekaslah pulang, hari sudah gelap" lamunanku usai ketika air mata ini tak terbendung lagi, wangi Ibu, dan semua tentangnya seakan hidup kembali.

Aku memang selalu tak kuasa menahan godaan untuk ke Liya Togo, godaan itu selalu datang dari nenek tercinta wa ode yai, kakek tersayang kakek Idha qiqi dan Idha ganiru. Lewat telp om nurdin mereka selalu merangkai alasan, "pulanglah dulu banyak yang mau kita ceritakan". Saya selalu memaksa diri untuk pulang bila semua orang tuaku dikampung itu memanggilku. Meskipun salah satu staf mengingatkan tentang agenda yang sudah dijadwalkan mengisi seminar di daerah jambi tentang perempuan dan politik.

Sejak terpilih menjadi anggota DPR perempuan termuda dan perempuan pertama dari sulawesi tenggara, dilantik diusia 29 tahun, serta merta saya menjadi sesuatu bagi kel besar khususnya diwakatobi dan sulawesia tenggara pada umumnya. Mereka menyambutku seperti menyambut anak sendiri. Begitu gemuruh, begitu haru. Awalnya aku merasa risih , tapi kesadaranku bahwa ini sesungguhnya bukan tentang diriku, tapi tentang mereka. Ini adalah tentang mereka, tentang harapan bertahun-tahun mereka pupuk dalam hidup tanpa listrik, tanpa air bersih, jalan tanpa aspal, dan gemuruh ombak yang bisa mencapai 7 meter tingginya.

Namaku Wa Ode Nurhayati. Saya lahir dan besar dikampung atas bukit itu, desa Liya Togo, kecamatan wangi-wangi kabupaten Wakatobi. Ayahku almarhum H. La Ode Rane dan Ibuku Almarhumah Hj. Wa Ode Undu.

Saya bungsu dari empat bersaudara. Si sulung bernama La Ode Hisai. Kakak laki-laki kedua bernama La Ode Baw, sedangkan kakak perempuanku bernama Wa Ode Nuriani. Kami semua nya lahir dikampung itu. Menurut cerita kakek, ayah kami adalah turunan ke 9 dari Kesultanan Buton. Karenanya kami semua menggunakan kata ODE dalam nama kami sebagai gelar bangsawan dalam istilah umumnya.

Namun janganlah membayangkan bahwa kami adalah golongan darah biru sebagai orang- orang khusus. Bahkan aku tau status itu hanyalah karna "sebuah nama". Hal ini bukan hanya karena Kesultanan Buton tinggallah sejarah, tapi memang sejak dulu masyarakat Buton sudah memiliki budaya demokrasi, dimana kekuasaan tidak diturunkan oleh faktor geneologi, tetapi oleh hukum adat. 

Undang-undang dijunjung begitu tinggi, melampaui kekuasaan Raja. Karena pembagian kekuasaan itulah, masyarakat Buton tidak pernah dijajah. Nanti aku akan coba ceritakan, kisah Almarhum Ayahku tentang bagaimana sejarah Buton dari Kerajaan Wolio hingga Kesultanan Butuni, telah menganut sistem yang banyak digunakan masyarakat modern saat ini.

Aku lahir malam jumat, 6 november 1981, tepat bersama azan subuh dimana bulan purnama sedang terang-terangnya. Ingatanku begitu nyata tentang hari kelahiranku ini, karena Ibu selalu mengulang-ulangnya. Terutama ketika aku sedang sedih. Ibu selalu bilang "saat kamu lahir,tangisan pertamamu didengar kakek, dia bilang andai kamu anak lai-laki dia meletakkan harapan besar pada masa depanmu, ia memimpikkan kelak kaulah yang jadi tempat pulang keluarga besar". 

Aku tak yakin apakah Ibu tengah mempercayai sebuah mitos atau sekedar menghiburku saja. Tapi yang pasti Ibu adalah orang ang tak pernah lelah mengajarkanku tentang harga diri sebagai perempuan Buton, kesetiaan,kejujuran dan keberanian adalah pesan-pesan yang jadi makananku.

Mungkin saat ini kata itu lebih terdengar sebagai ungkapan klise dari masyarakat feodal, namun Ibu sudah membuktikannya dengan mampu menjaga keutuhan Rumah tangganya, meskipun dibangun dengan kepingan hati seorang perempuan. 

Memiliki ayah seorang nahkoda kapal-kapal kayu ala wakatobi, yang melintasi negeri bahkan sampai keluar negeri dimasa itu, untuk usaha rempah- rempah. Pekerjaan melaut adalah pilihan mayoritas laki-laki dikampung kami, sebab tak ada yang bisa diharapkan  dari batu-batu dibukit tandus ini. Bahkan untuk sekedar mandi dan mencuci, kami harus menuju mata air yang letaknya jauh dilereng bukit. Meskipun selepas mandi dan mencapai puncak, badan kami sudah kembali basah oleh keringat.

Hingga usia 4 tahun, aku tak banyak mengingat tentang sosok Ayahku, karena sampai pada usia itu Ayahku tidak banyak bersamaku, karena profesinya sebagai pelaut. Tentu sebagai anak aku kadang gusar ketika melihat teman-teman sebaya menyebut kata "Ama" dalam kehidupannya. Dan tentu saja aku pernah bertanya, meskipun yang kudapat hanyalah repetisi yang tak bisa kuhitung berapa ribu kali ibu, nenek, dan kakak mengatakannya " Ama sedang berlayar, nanti juga Ama pulang kalau kamu sudah besar.

Sejak itu aku terobsesi untuk cepat tumbuh besar, agar  aku dapat segera bertemu Ayah. Ada sebuah resep yang Ibu berikan untuk mencapai itu, berani minum kunyit mentah. 

Ada satu hal yang aku tak ingat tapi kelak Ibu selalu bercerita, bahwa tiap kali ada lelaki asing yang melintas aku kecil suka memanggilnya "AMA". Tapi ada yang masih aku ingat, aku biasa berdiri menunggu lama di ujung bukit, setiap melihat ada kapal yang hendak melabuh

Satu-satunya yang menghubungkan kami dengan Ayah adalah ingatan dan doa Ibu disetiap sore diatas tangga rumah. Tak ada surat masa itu, apalagi telpon maupun sms. Kabar tentang Ayah biasanya kami dapat dari teman Ayah sesama pelaut, dimana Ayah juga biasanya menitipkan uang buat kami dan beberapa kalengan besar biskuit.

Masa kecil yang tomboy, membuatku kecil jarang menjadikan perempuan sebagai kawan dekat, dalam ingatanku aku banyak bermain teman laki-laki, mereka adalah Ara, Mahadi, Salome, Omy, Rudi, Fao, Musulia, dan lain-lain. Belajar memanjat pohon, bermain kelereng, memancing dilaut, adalah ajaran teman-teman itu yang saya ikuti dengan senang gembira. 

Sementara permainan perempuan seperti madak-masak sangat jarang saya minati. Kejadian yang teringat saat kak Ade meminta obat racun ikan dirumah karena Ayah suka menyimpan itu dirumah, saya memberi syarat bahwa akan saya berikan asal saya boleh ikut kelaut, masa itu belum ada aturan larangan tentang meracun ikan. Alhasil saat pulang bukannya bawa ikan tapi perahu kami terbalik dan saya ingat benar kak Ade menjemput saya didasar laut. Saat itu kami pergi bertiga saya, kak Huri dan kak Ade.

Selama Ayah pergi, Ibulah satu-satunya pengasuh kami. Semua pekerjaan kepala rumah tangga, ia tunaikan dengan sempurna. Siang hari ia berkebun disepetak tanah yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Disana ia menanamu ubi dengan susah payah, karena menanam diatas bebatuan dan untuk mendapatkan ubi yang baik Ibu harus mengumpulkan daun kering pengganti tanah dan butuh waktu lama untuk panen.

Ibu tak pernah mengeluh, dan tak pernah menunjukkan rasa sedihnya sebagai perempuan yang jauh dari suaminya bertahun-tahun. Yang tertinggal adalah keteduhan hati seorang Ibu. Ibu menjalani semua seperti tidak ada sesuatu yang ganjil dikeluarga kami. Jam empat subuh ia sudah harus siaga, sebelum kami bangun untuk solat dan bersiap kesekolah. Kami memang harus berangkat awal karena kaki sendiri adalah transportasi kami satu-satunya.

Selepas kami pergi, Ibu membenahi rumah, menyapu, mencuci dan semua perangkat yang melekat dalam diri perempuan. Siang hari, Ibu harus kembali berkebun, itu artinya ia harus menjadi "laki-laki". Tentu dirumah sudah tersaji semua yang kami butuhkan ketika pulang sekolah.  Saat itu kami tidak bertemu dengan Ibu. Suaranya nanti akan kami dengar menjelang magrib saat ia memanggil kami untuk pulang. Demikian seterusnya berulang sebuah repetisi yang seakan menjadi takdir  bagi perempuan- perempuan di Liya Togo.

Ibu adalah muslimah yang taat. Baginya agama bukan hanya perkara ritual ibadah. Tapi semua aktifitas  sejak mata terbuka hingga kembali terpejam, adalah ibadah kepada Tuhan. Semua sudah diatur oleh agama hingga hal-hal yang rinci, mulai dari bangun berucap syukur dan meminta perlindungan sepanjang hari, dan semua rutinitas lainnya yang semuanya harus di niatkan pengabdian pada Allah dan takut akan murka Allah. 

Semua itu benar-benar ibu tanamkan kepasa anak-anaknya. Solat dan ngaji bila terlalaikan Ibu akan menjadi seperti seorang Ayah yang marah dan garang. Sesekali beliau menguji sudah sampai dimana tingkat kemajuan kami mengaji. Guru mengajiku sendiri bernama Baira.

Kata-kata Ibu yang tidak pernah lepas dari ingatan adalah, dulukan ngaji bahkan dari sekolah. Bagi Ibu yang perempuan kampung masa itu, memahami bahwa agama adalah dasar, saat agama benar semua tentang dunia akan ikut benar.karenasemua dimulai dari oleh dan untuk Allah saja. 

Terhadap kakak perempuan saya kak Nuri, yang selisih usianya 10 tahun diatas saya, Ibu disetiap gerak tubuhnya ada petuah, petuah tentang moral, tentang martabat, tentang kesetiaan, dan semua kebaikan yang kadang dimasa kini saya sadari betapa hebatnya Ibu saya, dengan semua keterbatasan mampu merangkai smua prinsip-prinsip dalam tutur-tutur yang penuh makna. Contohnya " jadilah perempuan yang kelak bagi suami bisa menjadi pendampingnya, sesekali jadi saudara perempuannya atau bahkan seperti Ibunya, dengan begitu kamu akan melahirkan keluarga yang mulia". 

Mungkin karena semua pemahamannya itulah, Ibu sama sekali tidak goyah sekalipun Ayah jarang pulang. Menjaga keluarga menjadi kewajiban baginya. Ia selalu bilang "tak ada ketulusan yang sia-sia, dimanapun Ayah kata Ibu, ketulusan dan doanya yang akan menemani Ayah". Ibu seakan terikat pada sebuah janji, janji menjadi Istri dan Ibu.

Saat itu aku belum bisa mengerti, bahwa keteguhan Ibu sesungguhnya layak di catat dan mendapat tempat. Sebab bukan rahasia lagi bagaimana kehidupan orang-orang yang kerja dikapal. Seperti laut adalah pancaran dari superioritas laki-laki yang utuh, agresif dan panakluk. Disana perempuan adalah bagian dari benda-benda yang bisa ditunjuk dan disebut berapa nilainya. 

Ibuku pribadi yang selalu sederhanakan dirinya, sebagai istri nahkoda kapal, tentu kami berkecukupan bahkan lebih dari Ayah. Tapi Ibu mengajari kami untuk jadi seperti kebanyakan anak lain dikampung kami, satu ketika kiriman biskuit dari Ayah tiba, Ibu memintaku membagikan semua teman-temanku dan makan bersama mereka, namun setelah itu meskipun biskuit untuk kami masih ada, tapi beliau meminta kami untuk makan dirumah. "Jangan memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa kamu bagi dengan kawanmu". Itu pesan mama, yang hingga kini saya jaga dan usaha saya tunaikan.

Dari kesederhanaannya itulah Ibuku mungkin jadi pemilik emas terbanyak dikampung kami masa itu, kurang lebih Ibu sudah punya 2 kg saat itu. Menabung Emas adalah ajaran Ibu. Emas-emas Ibu seringkali dipinjam untuk acara-acara tradisi seperti pernikahan dan lainnya, karna masa itu dikampung kami aksesoris adalab emas asli. Tak pernah ada kehilangan dalam proses pinjam itu, sekaligus pesan kejujuran yang tertanam dalam kultur masyarakat Keraton Liya Togo. (*/Sahwan)

BERITA LAINNYA
Rabu, 11 Oktober 2017 | 20:49:27
Panita Pelaksana Wakatobi WAVE 2017 Resmi Dibentuk
Kamis, 28 September 2017 | 20:38:29
Sekda Wakatobi Sambut Kedatangan 112 Jemaah Haji
Sabtu, 16 September 2017 | 17:39:06
Festival Bharata Kaledupa Lahirkan Wajah Leluhur
Senin, 28 Agustus 2017 | 20:08:44
Prona Tahap II di Kota Baubau Beraroma Pungli
BERIKAN KOMENTAR
Top