• Home
  • Sultra
  • Tradisi di Kaledupa, Pasangan Bukan Muhrim Bila Berpegangan Tangan Akan Dinikahkan
Minggu, 17 September 2017 | 23:42:54

Tradisi di Kaledupa, Pasangan Bukan Muhrim Bila Berpegangan Tangan Akan Dinikahkan

Sahwan
Para gadis Kaledupa yang sedang melakukan tarian Lariangi di acara Festival Bharata Pulau Kahedupa.
BERITA TERKAIT:
PATROLINEWS.COM, Wakatobi - Salah satu tradisi adat dan budaya masyarakat Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang masih diterapkan hingga saat ini adalah bila ada cowok menggenggam tangan cewek yang bukan muhrimnya, akan dinikahkan. Ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal itu ditegaskan Camat Kaledupa Selatan, Drs. Safrudin kepada kru Patrolinews.com, Minggu (17/9/2017).

Dikatakannya, tradisi unik ini sudah turun temurun, jika pasangan pria dan wanita yang bukan muhrim kedapatan bergandengan tangan didepan umum, akan diberikan sangsi sosial (dinikahkan,red).

"Itu sudah menjadi tradisi sejak dahulu. Orang tunangan saja jika lelakinya datang ke rumah perempuan (Calon), dia hanya bisa duduk diruang tamu, kemudian wanitanya duduk dibelakan. Nah, dirumah saja sudah dilakukan semacam itu, apalagi dijalan. Jadi, perempuan kalau bukan muhrimnya dipegang saja ditelapak tangannya itu dilarang. Kami akan panggil orang tuanya dan tetua adat, lalu kami nikahkan," jelas Safrudin. 

Senada, salah satu tokoh masyarakat, Rajumu (54), yang juga sebagai Ketua Panitia Festival Bharata Kahedupa mengatakan tradisi ini diterapkan sesuai dengan agama dan keyakinan mereka, bahwa tidak diperbolehkan dua jenis kaum yang bukan muhrim ini bergandengan tangan.

"Sebelum dia menikah, terutama laki-lakinya dan perempuannya menginjak masa remaja, kemudian bila pegang tangan didepan umum, itu tidak bisa dalam adat dan budaya kami. Karena bukan muhrimnya," jelas Rajumu, Minggu (17/9/2017).

Rajumu menambahkan, jika hal semacam ini masih saja dilakukan dan kedapatan, maka tetua adat akan memanggil kedua orang tua kaum tersebut, lalu dimintai persetujuan atau merelakan anak mereka untuk menikah. 

"Kalau kedapatan ya, harus dikasih kawin (Menikah). Dan itu harus, tidak bisa tidak. Pokoknya harus dimaukan, apalagi sudah melakukan pelanggaran, dikatakan sudah hamil atau segala macam. Jadi daripada orang tuanya malu, lebih baik  dinikahkan," ungkapya. (Wan).

BERITA LAINNYA
Rabu, 11 Oktober 2017 | 20:49:27
Panita Pelaksana Wakatobi WAVE 2017 Resmi Dibentuk
Senin, 2 Oktober 2017 | 23:31:12
WON, Cagub Sultra Asal Desa Liya Togo
Kamis, 28 September 2017 | 20:38:29
Sekda Wakatobi Sambut Kedatangan 112 Jemaah Haji
Sabtu, 16 September 2017 | 17:39:06
Festival Bharata Kaledupa Lahirkan Wajah Leluhur
Senin, 28 Agustus 2017 | 20:08:44
Prona Tahap II di Kota Baubau Beraroma Pungli
BERIKAN KOMENTAR
Top