Kamis, 11 Januari 2018 | 22:07:46

Raih Dukungan Luar Biasa, Bukti Masyarakat Respon Djarot-Sihar

Patrolinews.com/ist
Wakil Bendahara Fraksi PDI-Perjuangan Sutrisno Pangaribuan.
PATROLINEWS.COM, Medan - Antusiasme warga untuk masyarakat tampak sangat luar biasa menyambut kedatangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur periode 2018 - 2023, Djarot-Sihar (Djos) saat mendaftar di KPU Sumut, Rabu (10/1/2018) kemarin.

Hal itu juga dibenarkan oleh Wakil Bendahara Fraksi PDI-Perjuangan Sutrisno Pangaribuan saat dikonfirmasi awak media ini , Kamis (11/1/2018) di gedung DPRD Sumut Jl.Diponegoro, Medan.

"Meskipun pasangan Djarot-Sihar hanya didukung oleh 2 partai, yakni PDIP dan PPP namun respon masyarakat yang kita lihat jumlahnya sangat tinggi, padahal itu bukan dibuat-buat," ungkapnya.

Buktinya, jelas politikus muda dari partai moncong putih bisa dilihat dari adanya penyambutan Reog Ponorogo dan kesenian daerah Karo yang dibuat masyarakat.

"Kita disambut dengan atraksi Reog Ponorogo dan kesenian Karo saat itu. Ini menunjukkan bahwa Djarot dan Sihar itu disambut dengan baik olehmasyarakat," ujarnya.

Sutrisno juga tampak menggunakan pakaian batik bermotif adat Angkola saat mendaftarkan Djarot - Sihar di KPU Sumut. Alasan itu katanya, karena Ia merupakan representatif wakil rakyat dari Dapil Tapanuli Tengah.

"Saya sendiri memang menggunakan atribut pakaian yang mewakili daerah pemilihan saya, dengan menggunakan motif Angkola. Artinya Djarot-Sihar menjadi pasangan yang diterima juga oleh masyarakat Tapsel. Saya tentu sebagai anggota DPRD yang diutus dari 5 kabupaten di Tapsel dan memiliki jaringan yang sudah pasti maka dengan itu pasangan Djarot dan Sihar akan dapat cepat tersosialisasi dan diterima masyarakat Tapsel," jelas Wakil Sekretaris Komisi D DPRD Sumut itu.

Dengan tingginya, respon masyarakat yang menyambut kedatangan pasangan Djarot-Sihar, lanjut Sutrisno lagi, bahwa itu membantahkan bahwa Paslon Djarot-Sihar merupakan calon impor dan tidak diinginkan masyarakat Sumut. 

"Sehingga asumsi-asumsi yang dibangun bahwa PakDjarot itu adalah orang impor hari ini sebenarnya terbantahkan. Sebab orang lupa bahwa jauh sebelum Pak Djarot datang kesini sebagai calon gubernur sudah banyak orang asalnya dari Sumatera Utara. Dalam jumlah besar kita terima dulu di sini (Sumut,red). 

Sutrisno menguraikan, hal itu dapat terlihat adanya transmigrasi di era mantan Presiden Soeharto dan itu tidak pernah ditolak masyarakat Sumut. Malah akhrnya saat ini membuat komunitas Djarot menjadi besar di Sumatera Utara.

"Karena pada masa itu kita tidak pernah bicara soal impor. Kenapa dalam konteks transmigrasi, kemudian perdagangan, bisnis, tenaga kerja, kita tidak bicara soal impor. Dulu secara terbuka komunitas Banjar, Jawa atau Bali ada di Sumatera Utara ini menjadi tenaga kerja awalnya menjadi tenaga kerja perkebunan. Bahkan hampir seluruh masyarakat Sumut tanpa pernah berpikir membahas soal impor, menikmati setiap kali ke Berastagi makan kue Wajik. Itu semua adalah Jawa," jelasnya.

Jadi polemik  yang dialamatkan ke Djarot- Sihar adalah sebagai ekspresi ketakutan dan upaya untuk membangun sentimen kedaerahan yang sempit.Hal itu terjadi karena kompetitor melihat adanya kekuatan besar dengan hadirnya pasangan Djarot-Sihar.

Oleh karena itu, Sutrisno berharap dengan proses pendaftaran Djarot-Sihar yang sudah masuk dalam tahapan kesehatan, tentu masyarakat yang selama ini tidak bergairah dengan pasangan yang ada selama ini menjadi memiliki harapan untuk memilih dan menggunakan hak pilihnya.

Karena pasangan calon pemimpin Sumatera Utara, Djarot-Sihar memiliki segudang prestasi dan pengalaman yang telah teruji dengan baik untuk menjadikan masyarakat dan Provinsi Sumatera Utara menjadi maju dan sejahtera.

Dimana Djarot memiliki prestasi sebagai dosen, wakil rektor di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, anggota DPRD Jatim, walikota Blitar 2 periode, anggota DPRD RI, lalu wakil gubernur DKI Jakarta, lalu menggantikan posisi Ahok sebagai gubernur DKI dan secara kepartaian sebagai ketua bidang organisasi DPP PDI Perjuangan.

"Jadi beliau telah melewati tahapan-tahapan menjadi penyelenggara pemerintahan yang diharapkan sebagai pemimpin yang sangat komplit," urainya.

Lanjutnya lagi, bahwa Djarot tidak bisa dibandingkan dengan orang lain demikian juga dengan calon wakilnya, Sihar Sitorus. Sutrisno menjabarkan bahwa Sihar Sitorus itu seorang profesional, sekolah di luar negeri, orang mandiri, lalu punya kecintaan dengan sepak bola. 

Beliau terlibat dengan sepak bola jauh sebelum pihak lain. Bahkan punya club' sepakbola Produta. Artinya Sihar Sitorus mengelola uangnya sendiri membangun klub sepakbola seperti membangun PSMS dan PSSI.

Jadi sihar Sitorus itu justru melakukan tanpa pamrih kepada olahraga sepakbola di Indonesia tanpa saat memiliki jabatan apa-apa di republik ini.

Bukan seperti orang lain karena memiliki jabatan baru ikut mengelola sepakbola. Disana klo gak suka bisa digampar, klo di sipil kan tidak ada seperti itu. Salah sedikit bisa digamparkan," tegas Sutrisno.

Oleh karena itu, Sutrisno berharap kompetisi Pilgubsu nanti dapat berjalan  terbuka tanpa saling menjelek-jelekkan. "Mari menyajikan prestasi-prestasi dan data-data yang sesuai untuk mencari kriteria calon gubernur SumateraUtara," tegasnya. (Nando)

BERITA LAINNYA
Senin, 20 November 2017 | 20:53:00
Pemko Medan Belum Serius Tangani Kemacetan dan Banjir
BERIKAN KOMENTAR
Top