• Home
  • RAGAM
  • Puluhan Karateka Perguruan Karate-Do Tako Indonesia Dishutsu Ikuti Ujian Kenaikan Sabuk
Senin, 27 November 2017 | 20:06:37

Puluhan Karateka Perguruan Karate-Do Tako Indonesia Dishutsu Ikuti Ujian Kenaikan Sabuk

Nando
KUMITE - Johanes Sitohang (kiri) VS Gideon saat mengikuti Kumite dalam kegiatan Ujian Kenaikan Sabuk di halaman kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Minggu (26/11/2017).
BERITA TERKAIT:
PATROLINEWS.COM, Medan - Puluhan peserta Karateka dibawah asuhan Pengurus Cabang Khusus (Pengcabsus) Perguruan Karate-Do Tako Indonesia Dinas Kehutanan Sumatera Utara mengikuti Ujian Kenaikan Sabuk yang digelar di halaman kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Minggu (26/11/2017).

Hadir dalam acara itu, Pengurus Cabang Khusus (Pengcabsus) Perguruan Karate Do Tako Indonesia Dishutsu Komite Teknik, Ali Hasan (Dan V), Simpai M.Iky Lubis (Dan II), Ikut Luhut Bagariang (Dan I), Fahrur Rozi (Dan I), Hotdi Nababan (Dan I) dan juga para orangtua karateka.

Dalam pengarahannya, Pengurus Cabang Khusus (Pengcabsus) Perguruan karate Do Tako Indonesia Dishutsu Komite Teknik, Ali Hasan (Dan V) menjelaskan peraturan-peraturan dalam Kumite dan meminta agar tetap menjaga sportifitas.

Dijelaskannya, bahwa tujuan Ujian Kenaikan Sabuk untuk melihat tingkat perkembangan murid selama mengikuti latihan. "Sekaligus harapan kita supaya dapat melahirkan bibit-bibit atlit berprestasi nantinya," pungkas Sinse Ali Hasan. 

Ditambahkannya, ada 5 tingkatan yang mengikuti tanding Kumite yang disesuaikan dengan usia para karateka yakni Sabuk Putih, Hijau, Biru, Coklat Kyu I, II dan Sabuk Coklat Kyu III.

"Kemudian kita kelompokkan sesuai usia dengan Kategori Usia Dini (8-9 Tahun) sebanyak 24 karateka, Pra Pemula (10-11 tahun) sebanyak 30 karateka, Pemula (12-13 tahun) sebanyak 10 karateka, Kadet (14-15 tahun) sebanyak 9 karateka dan Junior (16-17 tahun) sebanyak 6 karateka," pungkas Ali Hasan yang merupakan Shinsei para karateka.

Sementara, Simpai M. Iky Lubis (20) mengatakan dirinya bangga dan senang dapat ikut melatih para karate tersebut karena dengan usianya yang masih muda dirinya sekaligus mendapat pengalaman.

"Karena dengan ikut melatih mereka maka saya juga otomatis melatih diri saya sendiri dan menyalurkan ilmu karate yang telah terlebih dahulu saya pelajari dari Shinsei. Selain itu saya juga dapat belajar mengelola emosional saya. Adik-adik ini masih susah diarahkan, terkadang kita suruh berbaris saja, mereka malah masih bermain-main. Saya senang jugalah bisa ikut dipercayakan melatih mereka," ungkap Iky pemegang sabuk hitam Dan II itu.

Terpisah, salah satu orangtua murid Johanes Sitohang mengatakan dirinya memberikan apresiasi kepada Shinsei Ali Hasan yang selama ini sabar melatih para karate usia dini itu.

"Kita selaku orangtua murid selalu melihat bagaimana tingkah anak-anak yang suka bercanda saat Shinsei dan Simpai mereka memberikan instruksi. Anak kadang malah lari-lari dan malah ada yang bengong. Jadi para pelatih sudah cukup sabar melihat tingkah laku anak-anak itu," ujarnya kepada awak media ini, Senin (27/11/2017) saat menunggu anaknya di lokasi latihan Tako di Antonius VI, Medan.

Hanya saja, dirinya miris melihat minimnya peralatan Kumite dalam Ujian Naik Sabuk yang digelar di halaman kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara itu.

"Seharusnya Pemerintah Kota Medan terkhusus Dispora ataupun Disdik dapat memfasilitasi olahraga karate seperti ini karena olahraga karate merupakan salah satu cara menghindarkan anak-anak usia dini dari pengaruh negatif narkoba. Dimana dalam olahraga diajarkan kedisiplinan, sumpah karate, pelatihan fisik dan mental. Jadi Dispora ataupun Diknas jangan tutup mata," tegasnya. 

Ia pun berharap Dispora ataupun Diknas Kota Medan dapat memberikan bantuan peralatan olahraga karete bagi sekolah-sekolah yang memiliki ekstrakurikuler Karate.

"Seharusnya ada bantuan peralatan kepada sekolah seperti body protector, Helm and Face Maker Karate, Hand Protector, Alat pelindung kaki (Footwear Protection), Female Chest Protector (pelindung payudara), Gum Shield (pelindung gigi), dan pelindung kemaluan (abdominal Guard). Karena bila tidak ada kedepannya maka pihak sekolah nantinya disalahkan oleh orangtua murid ketika terjadi kecelakaan saat Ujian Naik Sabuk," tukasnya. (Nando)

BERITA LAINNYA
Kamis, 23 November 2017 | 22:59:18
Pemprov Dukung Konvensi DMDI ASEAN di Sumut
Rabu, 22 November 2017 | 22:22:19
Gubsu Buka Jambore Kesiapsiagaan Bencana Provsu 2017
Selasa, 21 November 2017 | 23:10:33
Kahiyang Ayu Resmi Dinobatkan Sebagai Boru Siregar
Selasa, 21 November 2017 | 23:08:56
Sumut Raih Juara I Lomba Masak Serba Ikan Nasional
Senin, 20 November 2017 | 22:09:10
Gubsu Buka Expo Aksi Koservasi Hutan Tropis Sumut
Senin, 20 November 2017 | 18:45:10
Panitia Natal PWI Sumut 2017 Audiensi ke Harian SIB
Minggu, 19 November 2017 | 22:01:35
Gubsu Hadiri Turnamen Topan Cup di Pantai Labu
Selasa, 14 November 2017 | 22:52:15
Gubsu Apresiasi Perayaan Natal Sumut 2017
Senin, 13 November 2017 | 20:51:47
Gubsu Minta Disbudpar Berinovasi
Minggu, 12 November 2017 | 19:44:17
Gubsu Buka Sumut Paten-Angkasa Charity Golf Turnamen
BERIKAN KOMENTAR
Top