• Home
  • RAGAM
  • Liston Hutajulu, Aktivis Muda Pimpin 32 DPC Pospera se-Kabupaten/Kota di Sumut
Senin, 12 Juni 2017 | 21:15:08

Liston Hutajulu, Aktivis Muda Pimpin 32 DPC Pospera se-Kabupaten/Kota di Sumut

Patrolinews.com/Ist
Ketua DPD Pospera Sumut, Liston Jenta Hutajulu
BERITA TERKAIT:
PATROLINEWS.COM, Medan - Usia muda bukanlah menjadi penghalang menjadi pemimpin dan bukan juga sebagai tolak ukur menilai seseorang itu tidak memiliki kemampuan. Kendati menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Berbagai kesulitan kerap diperhadapkan kepada pemimpin. Apalagi dalam memimpin organisasi pergerakan, tentulah tingkat kesulitannya berbeda dengan lainnya.

Kata-kata itu diungkapkan Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Sumatera Utara (Sumut) Liston Jenta Hutajulu yang kini masih berusia 32 tahun. Walau masih tergolong muda, namun dirinya saat ini telah memimpin 32 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pospera se-Kabupaten/Kota di Sumut. Sedangkan jumlah pengurus yang harus diayominya diperkirakan lebih dari 2.500 orang.

Dikatakannya lagi, memimpin itu tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran. Menurutnya, memimpin itu harus mampu melakukan pendekatan serta merangkul anggota demi kebaikan organisasi.

"Setiap anggota pasti memiliki karakter dan kelebihan masing-masing. Jadi, kita harus dapat melakukan pendekatan serta dengan rendah hati," ujar pria kelahiran Tanjung Ledong, 21 November 1985 ini saat diwawancarai awak media di Sekretariat DPD Pospera Sumut, Jalan Sei Batag Kuis, Pringgan, Medan, Senin (12/6/2017).

Namun, Alumni Teknik Elektro Universitas Darma Agung ini memiliki trik jitu dalam memimpin. Meski pun pembusukan terhadap kelompoknya terkadang didapatkan, dan bertujuan menjatuhkannya, hingga akhirnya organisasi ini akan pecah.

Tapi, saat ini Liston tidak lagi mengalami kesulitan dalam memimpin dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat. Berangkat dari pengalamannya selama menjadi mahasiswa, ia sudah terbiasa menghadapi berbagai kendala.

Sebelumnya, semasa mahasiswa dulu, Liston aktif menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Tobasa. Pada masanya, ia selalu mencari solusi, bagaimana menyatukan karakteristik anggotanya yang berbeda-beda. 

"Memang memimpin organisasi tingkat Nasional seperti Pospera itu lebih sulit daripada yang dulu. Karena semasa Hima tobasa hanya nyangkut kepentingan kabupaten. Jadi memang, harus lebih bijaksana lagi," tambahnya.

Katanya, kuncinya memimpin adalah pendekatan yang baik terhadap para pengurus. Sehingga, para pengurus dapat dipersatukan meskipun tingkat kesulitannya lebih tinggi. Karena, karakter dari berbagai kabupaten kota beda lebih kompleks,sebab suku, agama dan bahasa, atau budanya pun sudah berbeda-beda.

Ia menceritakan berbagai tantangan yang pernah ia hadapi dalam melakukan pendampingan. Selama memimpin Hima- tobasa, ia mendapat laporan dari anggotanya bahwa ada satu desa yang belum ikut menikmati Listrik selama 68 tahun Indonesia merdeka.

Ia pun mengadvokasi masyarakat yang belum menikmati listrik yakni di Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Tobasa yang terdiri dari tujuh 7 Desa pada tahun 2011 lalu.

Tidak semata-mata langsung diterima dan dipercaya masyarakat. Memakan waktu empat bulan, ia harus menjelaskan tujuan kedatangannya kepada warga.

"Aku masuk tidak diterima begitu saja. Mereka juga memiliki karakter berbeda-beda. Saya jelaskan dulu kepada mereka, bahwa 68 tahun Indonesia merdeka. Tetapi, mereka tak dapat menikmati apa-apa, padahal mereka membayar pajak," terangnya.

Masyarakat umum berbeda dengan mahasiswa. Karena masyrakat umum lebih memiliki karakteristik yang lebih banyak. Selama 4 bulan,  baru bisa dipercaya bahwa ia memang berniat mendirikan listrik. 

Tidak berhasil begitu saja, saat memimpin perjuangan warga berdemonstrasi, mereka juga pernah dihadang di tengah jalan. Bahkan beberapa masyarakat sempat di pengaruhi oleh instansi tertentu dengan berbagai iming-iming agar berhenti menuntut haknya.

Liston tak putus asa, dan bertahan. Serta tetap melakukan pendekatan kepada warga agar tidak goyah dengan apa yang sedang diperjuangkan. Berkat perjuangan Liston merangkul dan melakukan pendekatan, ahirnya pada tanggal 27 bulan Maret 2012 warga Kecamatan Habinsaran tersebut pun dapat menikmati listrik.

Berhasil mendampingi masyarakat, ia pun menjadi pemimpin organisasi Pospera Sumut dengan Ketua DPD periode 2015-2018.  Namun tidak terlepas dari bimbingan Ketua Dewan Pembina Pospera Sumut, Nicodemus Sitanggang.

Katanya, dalam memimpin Pospera ia belajar dari cara pengalamannya dalam melakukan pendekatan kepada para anggotanya.

Saat ini, ia tetap sibuk melakukan advokasi dan pendampingan kepada masyarakat. Seperti melakukan pendampingan terhadap korban Sinabung sekaligus memberi bantuan, advokasi terhadap keluarga pembongkaran makam di Tapsel, serta berbagai persoalan rakyat lainnya.

Saat ditanya apa motivasinya kenapa mau jadi pemimpin pergerakan, ternyata ia memiliki pengalaman pahit. Ia pernah di DO dari kampus Swasta terbesar di Medan akibat mengkritik kebijakan Kampus. Kemudian membuat pengaduan ke Komnas HAM yang saat itu didampingi Ketua PENA 98, Adian Napitupulu, hingga akhirnya menamatkan kuliah dari Universitas Darma Agung Medan.

Beranjak dari situ, dia pun semakin sering mendampingi masyarakat. Semakin sering terjun ke masyarakat, membuat hatinya semakin tergerak mendampingi masyarakat yang dinilainya haknya terzolimi.(*/Nando)

Biodata Singkat
Nama: Liston Jenta Hutajulu,ST
Lahir: Seikramat Leidong Kabupaten Labuhan Batu, 21 November 985  
Alamat: Jalan Bunga Cempaka baru Padang bulan 
Ayah: Wismar Hutajulu
Ibu: Norla Sitinjak 
Email: listonhutajulu.pospera@gmail.com
Twitter:@liston_hutajulu
Instagram:listonuhn
FB: Liston Jenta Hutajulu

Pengalaman Organisasi 
1.Himpunan Mahasiswa Tobasamosir (Hima-Tobasa )
2.Taligeni (Temu Aktivis Lintas Generasi )
3.TEMAN (Temu Mahasiswa Nasional) 
4.Pospera (Posko perjuangan rakyat)

BERITA LAINNYA
Senin, 19 Juni 2017 | 23:02:35
Gubsu Buka Puasa Bersama BEM Mahasiswa Medan
Minggu, 18 Juni 2017 | 23:17:03
Wakil Wali Kota Salurkan Zakat Pemko Medan
BERIKAN KOMENTAR
Top