• Home
  • Politik
  • Parbetor Seruduk DPRD Sumut, Bakar Atribut GoJek
Selasa, 23 Mei 2017 | 21:24:26

Parbetor Seruduk DPRD Sumut, Bakar Atribut GoJek

Fernando
PATROLINEWS.COM, Medan - Puluhan penarik Becak Motor (Betor) menggelar aksi unjukrasa di depan gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut), Selasa (23/5/2017) sekira pukul 14.00 WIB. Mereka meminta wakil rakyat mendesak Dinas Perhubungan menindak tegas angkutan transportasi berbasis online, karena mematikan mata pencarian mereka. Bahkan dalam aksinya, Parbetor ini sempat membakar atribut Go-Jek berupa jaket dan helm.

Aksi ini sempat memacetkan sejumlah ruas jalan, seperti Jalan Imam Bonjol, Jalan Kapten Maulana Lubis dan Jalan Pengadilan. Bahkan sebelum aksi, mereka sempat melakukan sweeping terhadap sejumlah Parbetor lainnya untuk mendukung aksi protes tersebut.

Pantauan wartawan di depan DPRD Sumut, para Parbetor yang tergabung dalam Solidaritas Angkutan Transportasi Umum (SATU) meminta pemerintahan kota dan provinsi menutup atau membatalkan izin operasi transportasi berbasis online seperti Go-Jek, Go-Car, Grab, Grab Bike dan lainnya.

"Tutup dan hentikan angkutan transportasi berbasis online dan laksanakan hasil RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan DPRD Sumut. Usut tuntas keterlibatan Kepala Dinas Perhubungan Sumut dan Organda yang tidak transparan menentukan kuota angkutan online roda empat," teriak orator aksi.

Mereka juga mengecam pemerintah yang tidak konsekuen menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 tahun 2014 bahwa angkutan umum minimal harus beroda tiga. Bahkan menurut mereka, selama Pemerintah, dalam hal ini Dishub dan Kepolisian masih saja plin-plan, maka persoalan ini tidak akan tuntas dan akan berkepanjangan.

"Ini persoalan serius. Ibarat apo dalam sekam. Mau sampai berapa lama kami dibuat seperti ini? Atau memang harus menunggu reaksi keras dari kami dulu, baru kalian sibuk?" ancam massa.

Mereka juga meminta keseriusan Pemerintah Kota Medan dan Pemerintahan Provinsi Sumut untuk menjadikan Betor sebagai ikon kota dan ikon pariwisata.

Di saat demo berlangsung, terlihat beberapa pengendara ojek online yang melintas di dekat aksi. Tapi mereka tidak menggunakan atribut karema takut akan memprovokasi massa. Makanya, ada juga beberapa layanan jasa antar makanan yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

"Dari Go-Jek, Pak. Mau antar pesanan makanan ke dalam," kata seorang pemuda yang menenteng beberapa kotak makanan meminta izin kepada polisi yang berjaga di gerbang DPRD Sumut.

Saat itu, pria yang enggan namanya dituliskan ini mengaku memang tetap melayani pesanan jasa secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlalu mencolok.

"Nanti disangka mencari gara-gara Pak. Kek ginj ajalah. Kan tetap bisa cari makan," ujarnya tak jauh dari kumpulan massa aksi.

Tuti, salah seorang warga Setiabudi mengaku dilema saat disuruh memilih menggunakan alat transportasi konvensional atau berbasis online. Dia mengaku cukup prihatin dengan kondisi Betor yang ada saat ini. Menurutnya, alat transportasi yang dulu sempat jadi primadona, kini sudah tak memberikan kenyamanan lagi.

"Banyak yang kecewa naik Betor, Pak. Kalau Betor tak berubah dan berinovasi, maka bagaimana mau diminati lagi. Dari fasilitasnya sajalah kita lihat. Bertekad dan berplastik, bising dan ugal-ugalan. Belum lagi ongkosnya sangat mahal. Bahkan kita dengar isu banyak penumpang yang jadi korban rampok. Jadi apa yang mau ditawarkan lagi kepada masyarakat," ujarnya. (Nando)

BERITA LAINNYA
Kamis, 17 Agustus 2017 | 00:31:38
DPW PPP Sumut Terima Berkas Pendaftaran 4 Cagubsu
Minggu, 13 Agustus 2017 | 20:00:10
Ahmad Hidayat Mus Optimis Kantongi Rekomendasi PKB
Minggu, 30 Juli 2017 | 20:36:08
Ngobrol Solidaritas Dari Anak Muda Untuk Sumut
Kamis, 20 Juli 2017 | 21:37:20
Silpa Rp1 Triliun, Kinerja Pemprovsu Tak Maksimal
BERIKAN KOMENTAR
Top