Senin, 4 Desember 2017 | 22:57:53

DPRDSU Minta Kapolda Tuntaskan Kasus Kematian Rayner Sibuea

Nando
Rapat Komisi A DPRDSU dengan Polres Tobasa, Kapolsek Porsea dan keluarga korban Rayner Sibuea.
PATROLINEWS.COM, Medan - Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Utara (DPRDSU) meminta agar Kapolda Sumut dapat memberikan kejelasan terkait kecurigaan Merry Lam Tota Simamora yang merupakan istri Rayner Sibuea yang diduga meninggal bukan karena bunuh diri tetapi dibunuh.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi A DPRDSU, Fernando Simanjuntak saat menyimpulkan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP), Senin (4/12/2017) di ruangan rapat Komisi A DPRD Sumut.

Menurut Merry Lam Tota mengatakan bahwa dirinya melihat ada kejanggalan-kejanggalan ditubuh korban karena ada bekas jeratan tali dibawah leher, luka di dahi, tangan dan kaki. Selain itu, keterangan yang diperolehnya dari abang korban, Romulo Sibuea dan Julius Sibuea bertolak belakang.

Hal itulah yang membuat Merry Simamora meminta agar dilakukan autopsi ulang kepada korban.

"Saya melihat kejanggalan surat pernyataan yang dibuat Romulo Sibuea (Abang kandung si korban) dan harusnya mayat dibuat di RS. Porsea menunggu saya datang," ujarnya.

"Kalau emang gantung diri seharusnya menunggu polisi datang untuk menurunkan mayat," pungkasnya menegaskan.

Kapolsek Porsea AKP R.S Nababan, SH menjelaskan, awalnya pihaknya mendapat informasi bahwa pada Rabu (2/8/2017) pih Tobasa, di simpang III, Desa Pangombusan Kecamatan Parmaksian telah terjadi gantung diri sekira pukul.05 WIB.

"Ditemukan laki-laki sudah tergeletak dilantai dan disamping mayat ditemukan potongan tali," pungkasnya.

Lalu lanjut AKP R.S Nababan, SH, berdasarkan keterangan Julius Sibuea bahwa korban menggantung diri dan diturunkan dari tali karena diduga masih dapat ditolong.

"Kesimpulan pemeriksaan bahwa korban mati lemas akibat tergantung," katanya.

Sementara, anggota DPRSU, Rony Reynaldo mengatakan Merry hanya membantah secara verbal dan tidak bisa memberikan bukti kepada DPRDSU dan karena saat ini merupakan rapat resmi maka harus diikuti dengan fakta-fakta.

"Kita tidak punya kewenangan untuk menilai. Kalau ibu ingin meneruskan ini dapat melakukannya ke Komnas HAM karena ini hak Ibu," katanya.

Rony mengatakan bila Merry belum merasa puas, dirinya juga dapat melakukan upaya hukum. "Kita berharap Polda nanti memberi kesimpulan," ucap Rony.

Fernando Simanjuntak mengatakan pihaknya disini tidak dapat bertindak sebagai penyidik. "Kalau ibu merasa ada ketidakadilan maka kita hanya bisa menyampaikan kepada para pihak agar direspon dan dapat ditindaklanjuti," jelasnya.

"Jadi itu tugas kami, jadi dewan tidak bisa menyimpulkan benar atau salah atas kejadian itu, kalau dari polisi dan rumah sakit sudah memberi kesimpulan melalui hasil autopsi dan visum. Maka kita minta kepada Polda supaya menyelesaikan proses pengaduan dari ibu Merry. Karena ini sebuah perasaan mencari keadilan jadi polisi dapat memberikan penjelasan. 

Terpisah, saat awak media ini meminta penjelasan Kapolsek Porsea AKP R.S Nababan, SH terkait lamanya memberikan penjelasan hasil visum dan autopsi kepada istri korban (Merry,red) hingga membuat keluarga mengadu ke DPRDSU, Kapolsek Porsea tampak bingung dan terdiam dan malah langsung menghindar dari wartawan. (Nando)

BERITA LAINNYA
Kamis, 14 Desember 2017 | 23:05:12
Komplotan Pencuri Nyaris Tabrak Kapolsek Pakkat
Minggu, 10 Desember 2017 | 22:24:25
Pelaku Pencurian Toko Terekam CCTV
Kamis, 7 Desember 2017 | 21:45:25
FKUB Sumut Gelar Dialog Umat Beragama
Selasa, 5 Desember 2017 | 22:54:41
Penemuan Tulang Tengkorak Gegerkan Warga Ponorogo
Selasa, 5 Desember 2017 | 08:28:51
Cipayung Plus Sumut Tolak Pengesahan R-APBD 2018
Selasa, 28 November 2017 | 22:52:54
Main Judi KIM, Marudut Diringkus Polsek Pakkat
Rabu, 22 November 2017 | 22:26:18
Konsumen Bandar Sabu Pasar XII Diciduk Polisi
BERIKAN KOMENTAR
Top