Senin, 16 Oktober 2017 | 19:00:08

Dinas LH Kabupaten Karo Gunakan Ormas Kelola Retribusi Galian C

Anita
PATROLINEWS.COM, Karo - Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara melalui retribusi tambang (galian C) di Dinas Lingkungan Hidup dipastikan mengalami kebocoran. Pasalnya, ratusan truk-truk pengangkut pasir dan batu yang membayar retribusi tanpa Surat Setoran Pajak Daerah (SSDP). Bahkan, setoran pajak tersebut hanya dipercayakan pihak dinas kepada salah satu Organisasi Masyarakat (Ormas) untuk menagihnya.
 
Hal ini tentunya dapat menyebabkan kebocoran dan menghambat target pemasukan sebesar Rp1,2 Miliar. Karena tidak sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Karo No. 4 Tahun 2013 tentang Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan. Yang disinyalir tidak semuanya masuk ke kas daerah alias ada pungutan liar (Pungli). 

Padahal, Dinas Lingkungan Hidup membuka sejumlah tempat pemungutan pajak galian C di beberapa tempat seperti di Kecamatan Lau Baleng, Tiganderket dan Kecamatan Payung.
 
Kabid Sumber Daya Mineral Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Karo Valentina beru Sembiring, ST saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya baru-baru ini membenarkan bahwa pihaknya bekerjasama dengan salah satu ormas untuk mengontrol penarikan pajak yang diperoleh dari sopir truk pengangkut pasir dan batu. 
 
"Banyak pengusaha yang belum sadar akan pentingnya membayar pajak. Padahal SSDP yang diberikan kepada pengusaha, mereka sendiri yang mengisi SSDP nya sesuai dengan Perda yaitu 20 persen dari harga dasar penjualan hasil tambang. Memang selama ini, pihak dinas telah bekerjasama dengan salah satu ormas untuk mengontrol penarikan pajak yang diperoleh dari sopir truk pengangkut pasir dan batu yang akan melintas untuk menjual hasil angkutannya,"ujarnya.
 
Menurutnya, kerjasama dengan salah satu ormas hanya untuk mengontrol bukan menagih uang retribusi. "Kalau soal ijin galian itu sudah di propinsi. Sedangkan pajak retribusinya disetor sendiri oleh pengusaha ke Dinas Pendapatan. Bukan diberikan kepada salah satu ormas itu,"bantahnya.  
 
Parda Pandia (45), warga Desa Payung, Kecamatan Payung, Senin (16/10/2017) mengatakan sudah hampir setahun lebih aktifitas galian C ilegal jenis batu dan pasir di Desa Perbaji tepatnya di Titi Kambing, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo sangat mengganggu kelangsungan hidup masyarakat sekitar bahkan merusak fisik jalan.
 
"Dibeberapa titik jalan, banyak yang sudah berlubang-lubang akibat ratusan truk pengangkut pasir dan batu setiap hari lalu lalang melintas di jalan ini. Kalau musim hujan, lubang-lubang itu tergenang air dan mengakibatkan becek.  Kalau musim kemarau, debu beterbangan yang mengganggu pernafasan masyarakat,"ujarnya. (Anita) 

BERITA LAINNYA
Rabu, 22 November 2017 | 22:26:18
Konsumen Bandar Sabu Pasar XII Diciduk Polisi
Sabtu, 18 November 2017 | 18:46:27
Kapolres Karo Pindah Tugas ke Polda Sulsel
BERIKAN KOMENTAR
Top